Novel yg diterbitkan tahun 2016 ini menceritakan seorang Zaman Zulkarnaen, pengacara muda yang beruntung diterima kerja di Thompson.co, sebuah firma hukum di kawasan Belgrave Square, Kota London, yang terkenal bukan karena kemegahannya, tapi karena dedikasinya dalam menegakkan kebenaran, sejak hampir seratus tahun yang lalu.
Zaman ditugaskan untuk menemukan ahli waris dari seorang wanita bernama Sri Ningsih, yang meninggal di sebuah panti jompo di kota Paris, dan ternyata mewariskan aset berbentuk kepemilikan saham senilai satu miliar poundsterling, atau setara 19 trilyun rupiah !!
Maka penelusuran pun dimulai. Dari panti jompo tersebut, Zaman menemukan buku diary milik Sri Ningsih, yang merupakan kunci pembuka untuk menelusuri jejak hidupnya. Dari sana, Zaman menjelajahi daerah-daerah sesuai petunjuk yang ada di buku harian tersebut. Dan di setiap episodenya, kita bakal menemukan berbagai peristiwa yang mengharukan sekaligus dibuat terpesona dengan karakter yang dimiliki oleh Sri Ningsih ini.
Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran (maju mundur), yang menceritakan penelusuran Zaman, mulai dari masa kecil Sri Ningsih yang penuh diskriminasi dan kehilangan di Pulau Bungin (Sumbawa), momen persahabatan sekaligus pengkhianatan di sebuah pondok pesantren di Surakarta, kerasnya hidup dan membangun kerajaan bisnis di Jakarta, hingga kisah cintanya di London dan sisa hidupnya di Paris . Kelebihan yang dimiliki Tere Liye, adalah dia bisa menyambungkan fakta sejarah dengan alur cerita yang dibuatnya, sesuai dengan rentang waktu kehidupan Sri Ningsih, yaitu dari tahun 1946-2016. Beberapa peristiwa bersejarah diceritakan di novel ini, diantaranya peristiwa pemberontakan PKI, peristiwa Malari, krisis moneter 1998, dan peristiwa bersejarah yang lebih besar lagi, yaitu Perang Dunia Kedua dan fenomena Millenium Bug (Y2K).
Dari novel setebal 501 halaman ini, kita bisa belajar tentang karakter Sri Ningsih yang tangguh dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai cobaan dalam hidupnya, walaupun sebenarnya dia selalu dihantui oleh masa lalunya. Ketulusan dan kebaikannya membuat dia selalu disukai, dimanapun dia berada. Novel ini memang tentang kamu. Iya, Kamu, wahai Sri Ningsih.
