“Tahukah kamu Aini, berapa usia waktu?” tanya Bu Guru Desi. Aini pun menggeleng. “Usia waktu adalah 40 miliar tahun. Selama itu dia telah berkelana di jagat raya, membuka ruang bagi setiap gerakan, memberi kesempatan bagi setiap harapan, menarik batas bagi setiap kehidupan. Waktu meninggalkan jejak pada setiap sendi kemanusiaan dan kebudayaan. Waktu menantang pertempuran yang takkan pernah kita menangkan. Karena waktu adalah hukum pertama kehidupan…
Waktu menyelinapkan diri di noktah t kecil dalam matematika dan fisika. t kecil itu Kawan, bisa mengubah peradaban ! Nah, hari ini Aini, setelah mengembara semesta selama 40 miliar tahun, akhirnya waktu menemuimu…
Merasa terhormat aku menerima orang yang berani jujur pada diri sendiri, di kelasku!” ucap Bu Guru Desi, dengan tersenyum bangga.
Itulah sepenggal percakapan dalam novel Guru Aini karya Andrea Hirata, yang terbit di tahun 2020. Novel setebal 262 halaman ini mengisahkan tentang seorang anak pintar bernama Desi Istiqomah, yang “keukeuh” ingin menjadi guru matematika, walaupun kedua orangtuanya menginginkan dia menjadi seorang dokter atau pebisnis yang akan meneruskan usaha mereka. Desi yang “istiqomah” dengan cita-citanya itu, terinspirasi oleh guru matematikanya yang sangat hebat, yaitu Bu Guru Marlis.
Singkat cerita, Desi pun akhirnya lulus dari sekolah pendidikan guru matematika, dan dia pun otomatis diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Tibalah saatnya penempatan lokasi pengabdian. Desi yang merupakan lulusan terbaik, bisa saja meminta ditempatkan di kota besar. Tapi dia malah memilih sebuah pulau terpencil nun jauh disana, yang bernama Pulau Tanjong Hampar, tepatnya di Kampung Ketumbi. Beruntungnya, di kampung ini, dia disambut dengan baik oleh seluruh warganya. Mereka antusias dengan kedatangan sang guru baru, yang diharapkan bisa membuat anak-anak mereka jadi pintar matematika.
Namun begitulah, jauh panggang dari api, Bu Guru Desi yang sangat pintar, begitu kesulitan dalam mengajarkan matematika kepada sebagian besar anak Ketumbi. Tapi karena sifat idealisnya Bu Desi, dia tak akan pernah putus asa. Bahkan dia bersumpah, jika dia tidak akan pernah mengganti sepatu yang dia pakai sebelum dia menemukan anak pintar matematika di kampung itu. Dan begitulah, sampai sepatunya lusuh bukan main, Bu Desi tetap belum menemukan anak berbakat tersebut.
Sampai akhirnya dia bertemu dengan Aini, anak penjual mainan yang nilai ulangan matematikanya macam bilangan biner, kalau gak dapat nilai 0 ya dapat nilai 1. Aini bersikeras ingin pintar matematika, karena dia bercita-cita menjadi dokter, supaya bisa mengobati ayahnya yang sakit parah. Lalu bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Apakah Bu Guru Desi berhasil mendidik Aini ? Yuuk, bagi yang ingin baca novelnya, boleh pinjam di Perpustakaan SMA Asy-Syuja’iyyah Ciwidey.
“Tak ada yang lebih membuat murid gembira selain berhasil mempelajari sesuatu, dan tak ada yang membuat seorang guru gembira selain menemukan cara untuk mengajari muridnya” (Bu Guru Desi)
